Kapok Naik Gunung!


puncak kentengsongo
Basecamp via selo




Dipenghujung tahun kemarin gua mengutuk diri sendiri paling sialan sealam semesta. Apa yang gua usahakan pasti sia-sia. Capek nggak si lu diposisi saat lu sudah berjuang mati-matian tetapi hasilnya nihil malah dari apa yang lu usahakan itu sama sekali tidak dihargai? ternyata kuncinya satu: gua nggak bener-bener tulus melakukannya dan hanya berharap berbalas! 


Saking numpuk menjadi bom waktu sejak saat itu gua takut punya impian, gua takut berharap, gua takut segala penolakan dan paling parahnya gua takut menatap dan melangkah melanjutkan perjalanan lagi. Sampai ada niatan untuk menghukum diri sendiri berhenti naik gunung. 

 “kesenangan dan kesedihan hanyalah perihal waktu” gua setuju sama kalimat itu. disisi lain gua nggak pingin orang-orang yang menyayangi gua ikutan sedih yang berlarut melihat gua kayak gitu. Otak vs hati luar binasa perang hebat. Selogis mungkin gua mau menyudahi dan mengalihkan rasa sialan tersebut, beruntungnya ada malaikat-malaikat kecil ada kesempatan untuk mengajar disuatu lembaga sekolah ditanah rantau, selain menyelesaikan kesibukan dengan tugas kuliah beserta kegiatan organisasi. 

Berjalannya waktu luka semakin terobati. Nggak mudah menetralkan mood yang kalau lagi ancur bisa down banget dan kalau lagi seneng bisa ngalamin susah tidur! Btw ini ngombe ngalor ngidul amat yaaa oke kita balik ke topiknya tentang makna perjalanan mendaki merbabu kemarin. Anggap aja ini pemanasan cuy biar nanti gua cerita bakal nyambung hehe gua mau mengingatkan di sini gua nggak cerita perjalanan awal hingga akhir gua muncak karena gua lagi nggak tertarik sama itu, gua pingin cerita gimana gua memaknai setiap perjalanan dan apa aja yang bisa gua ambil dari perjalanan kemarin, di atas sempet bilang untuk berhenti naik gunung. 

Pemikiran super sumbu pendek sekali sewaktu itu saking gua takut nerima apa yang ada di depan, takut inget dan ujungnya mewek jiahhh padahal alam tidak pernah buat gua patah malah setiap turun selalu membawa rindu! Udeh manis belom nih? Wkwkw Setiap perjalanan naik gunung selalu punya pelajaran tersendiri untuk memaknai kehidupan yang gua lalui dan akan gua jalani, tapi kali pertama diperjalanan naik gunung khususnya ke merbabu tanggal 21-24 Juni 2018 suatu perenungan yang luar biasa. 

 
Jembatan Setan


Sabana 1 view Sindoro



Baru ini gua mewek parah di trek jalur sejadi-jadinya ketika lagi ngerest duduk sebentar disuguhkan view merapi depan mata, hamparan bintang atau disebut milky way bertaburan, cuaca lagi cerah puas banget liat beberapa dari sebagian isi alam semesta ini, masih inget banget berita merapi yang lagi batuk. Pikiran gua fokus satu: gimana kalau keadaan kiamat yang digambarkan dalam kitab suci? serasa kayak menjemput hidayah. Kembali teringat gimana kemarin kondisi ngedown parah banget, merefleksi diri sendiri bisa sejauh ini perjalanan, dan lagi-lagi gua sudah konstribusi hal apa atau berguna untuk orang disekitar? begitu sombongnya sifat dan sikap gua sebagai manusia yang mengutuk diri sendiri lalu mengecewakan kesekian kali sang pencipta. Padahal tiada yang sulit bagi-NYA ketika sudah berkehendak lantas, manusia kecil yang tidak terlihat di atas sana masih bisa untuk tidak bersyukur. Ampun. Jleb itu senggolan sangat nampar. 

Nggak terasa salah satu sahabat gua menghampiri nanya keadaan gua dan nggak banyak omong dia langsung meluk. Ahhh meleleh deras itu bulir-bulir air asin dari mata! Tembok iman yang gua bentuk kurang kokoh makanya bisa ngedown separah itu, benar-benar bersyukur dari perjalanan ini tabokannya ngena. Perjalanan kali ini gua mau mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga sepanjang masa: nyak babeh atas izinnya, barisan para kawan yang super duper baik hati tiada tara, merbabu selalu rindu. Semua itu rezeki, bisa bersua kembali. Aamiin. 








Kapok naik gunung? nggak! Indonesia juaraaa ini salah satu rasa syukur gua untuk melihat lebih dekat ciptaan semesta. moga bisa jelajah kisah lebih jauh lagi dan semakin terus bersyukur. Beberapa hari yang lalu di akun media sosial WhatsApp gua membahas tanggapan orang lain bagaimana komentar mereka tentang foto yang diunggah lewat instagram, dari nyinyir ringan sampai nyinyiran yang bikin gua ternganga pun banyak yang masuk dikontak pesan. Edan! sungguh dunia pernetizenan membuat gua banyak-banyak istigfar. Ya sadar sih hukum alam menggunakan sosmed gimana tapi yo mboh kalau mau komen dipikir dulu gitu, ini yang punya akun ada hati dan pikiran mas’e mbak’e. 

Mulai dari “enak ya jalan-jalan terus, duit lu banyak ya jalan mulu, ih iri deh, ajak-ajak lah kalau muncak, enak ya kuliah bisa maen teros, enak ya nggak pusing ngurusin perekonomian keluarga”. Rasanya gua pingin banget ngejawab ENAKLAH KERJA LEMBUR BAGAI KUDA. Tapi nggak perlu, manusia emang paling senang cuma lihat hasil entah prosesnya gimanapun nggak peduli kan? dibalik pemandangan bagus, ada sebuah cerita panjang yang bernama PERJUANGAN dimana tidak semua yang dilihat itu instant langsung terjadi tapi selalu ada perih, sakit, jatuh, bahkan nyungsep atau merayap. Semua butuh perjuangan karena dengan berjuang lu akan lebih mengerti dan bersyukur tentang apa arti hidup. Ayeyyy… dan kenapa gua demen banget naik gunung karena disaat gua melakukan perjalanannya, gua bisa ngerasain ibarat kayak handphone dicas, anak merantau pulang ke rumah, pemaknaan hidup, hidup tanpa kepura-puraan seperti di kota, nggak mandi di atas sana pun nggak ada yang ngatain lu bau! Hahaha 

Setiap kepala memang mempunyai sudut pandang yang berbeda, sadar betul hakikat itu. Maka dari itu sama-sama saling menghargai saja ya kesukaan dan kebahagiaan masing-masing. Semoga kita semua bisa selalu tahu cara mengapresiasikan diri untuk bahagianya. Patah boleh, semangat jangan. Salam kuy!!! 

menu makanan termantap





Komentar