Hari Senin tepatnya tanggal 27 November 2017 beberapa bulan lalu, gue ada kegiatan di kampus studi lapangan ke Suku Kanekes atau sering kita kenal Suku Baduy. Suku Kanakes merupakan
suku yang bertempat di provinsi Banten tepatnya di kecamatan Leuwi
Damar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Di daerah hulu aliran sungai Ci
Ujung pada sisi utara Pegunungan Kendeng di kawasan Banten Selatan.
Angkatan'15 anak sastra kira-kira ada sekitar 78 orang (belum termasuk dosen) yang ikut. gue bersama rombongan berangkat dari kampus pukul 24.00 wib naik bus ke lokasi, sebelum sampai lokasi kita istirahat sebentar di rest area pesantren Darun Na'im dekat dari desa Ciboleger untuk melepas rasa lelah dan sholat subuh, setelah itu lanjut perjalanan lagi kurang lebih sejam (gue gak begitu inget, karena selama perjalanan hampir molor teman-teman hehe) sekiranya udah mau deket lokasi pukul 07.00 wib itu jalanan cuma bisa dilalui bus satu arah aja, mepet banget kiri kanan pohon cokelat dan gue baru liat pohon cokelat langsung aseli! hehe maafkan kenoraan ini yak...
Angkatan'15 anak sastra kira-kira ada sekitar 78 orang (belum termasuk dosen) yang ikut. gue bersama rombongan berangkat dari kampus pukul 24.00 wib naik bus ke lokasi, sebelum sampai lokasi kita istirahat sebentar di rest area pesantren Darun Na'im dekat dari desa Ciboleger untuk melepas rasa lelah dan sholat subuh, setelah itu lanjut perjalanan lagi kurang lebih sejam (gue gak begitu inget, karena selama perjalanan hampir molor teman-teman hehe) sekiranya udah mau deket lokasi pukul 07.00 wib itu jalanan cuma bisa dilalui bus satu arah aja, mepet banget kiri kanan pohon cokelat dan gue baru liat pohon cokelat langsung aseli! hehe maafkan kenoraan ini yak...
Kemudian tibalah juga tulisan "Selamat Datang DI CIBOLEGER" wah alhamdulillah teman-teman sesampainya di sana, gue bersama rombongan untuk sarapan setelah selesai bersiap-siap langsung jalan kaki menuju Baduy luar ke kampung Gajebo ya sekitar dua jam perjalanan lagi (ini sih tergantung gimana jalannya cepat atau lambat menentukan estimasi waktu) berhubung sebelum hari H studi lapangan, panitia sudah menyiapkan segalanya yang dibutuhkan seperti perizinan beserta keperluan lainnya. Jadi gue dan rombongan fokus ke tugas penelitian ini langsung berangkat, ohiya gue bersama rombongan cuma beberapa jam aja di Baduy luar tidak untuk bermalam.
Gue nggak ngebahas tentang penelitian di sana, di sini gue mau berbagi aja sudut pandang yang berbeda menurut gue setelah melihat dan merasakan selama berada di Baduy Luar. Gue bahagia banget, karena apa? gue bisa berkesempatan untuk berkunjung ke sana, pengalaman hidup yang nggak mudah buat lupa banyak belajar tentang makna kehidupan itu sendiri dan mensyukuri apa yang telah Allah kasih selama ini buat gue.
Hari itu cuaca lagi nggak mendukung hampir dari pagi sampe sore perjalanan berangkat ke Baduy luar dan pulang ke tempat penginapan hujan yang lumayan deras, jalanan yang licin banget banget banget ngelewatin anak sungai, hutan, ladang, jembatan terbuat dari bambu membuat gue lebih berhati-hati. Tapi sepanjang jalan karena gue udah biasa hidup susah haha jadi santai aja nikmatinnya, memang benar teman-teman alam itu tidak mengkhianati keindahannya behhh keren pisannn udaranya yang sejuk, sunyi, (itu distrik kayak nggak ada penghuninya cuma suara jangkrik doang yang kedengeran), damai gue cuma bisa bergumam dalam hati (rasanya gue mau tinggal di sini kalau boleh) hehe...
Beberapa ada dokumentasi foto yang gue ambil ketika diperjalanan ke lokasi tapi, tetap nggak boleh sembarangan mengambil foto tanpa izin dan harus menaanti peraturan yang berlaku.
| Kondisi jalan menuju Gajebo |
Gue bangga lahir di Indonesia. Kaya akan budaya, adat istiadat, di mana rumah yang masih kental diterapkan akan norma-norma leluhur nenek moyang terdahulu mengajarkan nilai kehidupan, salah satu dari sekian banyak yaitu Suku Kanakes. Suku Kanakes atau Suku Baduy adalah masyarakat sunda yang masih memegang
teguh adat istiadat dari nenek moyang mereka, yakni menganut Sunda
Wiwitan.
Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok Baduy
Luar dan Baduy dalam. Memang terdapat beberapa perbedaan antara Baduy
luar dan Baduy dalam namun, kedua kelompok tersebut tetap hidup
berdampingan, diantaranya dalam hal berpakaian pada masyarakat
Baduy Luar mereka sudah mulai memakai kain bercorak yang merupakan ciri khas
yang membedakan masyarakat Baduy Luar dengan Baduy Dalam selain kain tenun yang mereka buat sendiri,
berbeda dengan Baduy Dalam yang masih setia memakai kain putih atau hitam polos
sebagai pakaian.
Nilai kehidupan yang gue bisa ambil dari Suku Baduy yaitu JUJUR. Berdasarkan sumber data wawancara di distrik Baduy Luar sebut aja namanya kang Supri, beliau mengungkapkan sudah sering ke Jakarta untuk menjual hasil panen mereka, kalian tau teman-teman? kang supri ke Jakarta hampir puluhan kali pulang pergi JALAN KAKI dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berpergiaan jauh. Alasannya karena bukan mereka nggak punya uang tetapi mereka (kang supri bersama pemuda Baduy lainnya) menjalankan apa yang sudah diajarkan leluhur mereka untuk bersikap jujur di dalam dirinya tersebut. Bisa saja mereka sesampainya di Ibu Kota naik mobil dan tidak ketahuan oleh masyarakat Baduy lainnya. Bagi mereka berjalan kaki merupakan ibadah, kang supri bilang kurang lebih begini intinya...
"kita nggak bisa menanggung beban (kebohongan), nanti berat sendiri ngejalanin hidup dan merasa nggak enak buat badan sendiri".
Gue langsung ngebayangin capeknya gimana dan liat kaki kang supri, sumpah ya itu betis kalah talas bogor! memang sih pemuda masyarakat Baduy dan masyarakatnya apapun melakukan aktivitas dengan jalan kaki plus nyeker teman-teman keadaan kaki telanjang nggak ada namanya pakai sandal (Baduy dalam). Nggak perlu ngegym rutin untuk membentuk badan mereka ya gimana nggak badannya udah kekar gitu.
| salah satu mata pencaharian Suku Baduy Luar untuk wisatawan berupa makanan dan cendramata |
| Bentuk Rumah Suku Baduy Luar |
Masyarakat lingkungan sekitar kita pola pikirnya sudah modern, saling menghargai satu sama lain pelan-pelan terkikis, apalagi anak kecil sudah dididik dengan smartphone. Kehidupan masyarakat Baduy membuat gue sendiri tertampar untuk memaknai kehidupan lebih dalam lagi, meskipun mereka tidak mengenyam bangku sekolahan, tapi pendidikan karakter yang ditanamkan orang tua mereka berhasil, sedari kecil mereka langsung diajarkan bagaimana membantu pekerjaan orang tua yang mayoritas mata pencaharian berladang, bertenun membuat kain, atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah.
Percaya atau tidak mitos itu penting! bagi masyarakat Baduy, kehidupan mereka diatur dengan peraturan yang menurut kita nggak masuk akal. Tapi percayalah teman-teman, mereka sangat taat dengan peraturan yang telah berlaku tertulis maupun lisan dari petuah cerita-cerita nenek moyang yang mereka percayai. Itu semua dilakukan karena masyarakat Baduy sangat berpegang teguh pada apa yang nenek moyang mereka ajarkan. Seperti berikut:
"neda agungna parahun, neda panjangna hampura, bisi nebuk sisikuna, bisi nincak lorongannana – lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, nu enya kudu dienyakeun, nu henteu kudu dihenteukeun"
Intinya
arti dari pribahasa di atas adalah bahwa masyarakat Baduy harus selalu patuh
pada apa yang diajarkan oleh nenek moyang yaitu tidak menambah apa yang sudah
ada dan tidak mengurangi apa yang sudah ada. Masyarakat Baduy sangat
menghormati apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka, mereka tidak punya hak
untuk merusak apa yang telah Tuhan ciptakan dan, mereka sangat menghormati
semesta alam. Dan masyarakat Baduy percaya dengan mereka menggali tanah ketika proses
penguburan ditambahkan dengan membuat gundukan dan diberi batu nisan atau pohon
sebagai penanda sebenarnya mereka telah melukai alam dan merubah apa yang telah
ada, karena mereka percaya apa yang telah ada di alam ini harus tetap sama
seperti itu dan harus mereka jaga.
Dan uniknya kalau ada yang pindah rumah, masyarakat Baduy gotong royong membantu satu dengan lainnya untuk menggotong rumah yang akan dipindahkan ke tempat yang baru, coba teman-teman bayangkan betapa rasa kekeluargaannya erat sekali ya... gue juga inget sewaktu mau nyebrang lewat jembatan gitu atau sungai, masyarakat Baduy ramah pisan euy ngajak ngobrol gue sebentar sepasang suami isteri bilang "hati-hati jalannya licin" dan memberi tahu jalan untuk dilewati terus senyum.
| Jembatan penghubung distrik |
| Salah satu bentuk rumah |
| Kondisi Jalan |
| Ladang |
Seperti yang sudah gue bilang diawal, sepanjang perjalanan diguyur hujan yang lumayan deras, entah mereka (Suku Baduy) emang nggak punya atau gimana. Gue sama sekali ngeliat mereka yang keluyuran atau sekadar berpapasan di jalan nggak bawa payung atau jas ujan tapi, mereka cuma berbekal caping (yang biasa buat ke sawah) atau daun pisan sebagai penutup kepala biar nggak basah. Luar biasa ya fisik mereka kuat banget.
Gue sangat tertarik dengan sudut pandang dan pola pikir Suku Baduy yang menurut kalian pemikirannya sangat kolot. Dibalik itu semua kehidupan yang harmonis sangat bisa gue rasakan dan masyarakat Baduy benar-benar menjaga apa yang Allah berikan dan nenek moyang ajarkan dengan menjaga alam yang ada di bumi. MasyaAllah.
"mereka (Suku Baduy) memang profesor kehidupan tiada dua"
| Suku Baduy Luar sudah mengenakan sandal |
| Perlengkapan Tenun |
| Contoh corak kain Baduy Luar |
Teman-teman tidak usah khawatir jika ingin berkunjung ke sana, masyarakat Baduy luar dikit demi sedikit sudah bisa berbahasa Indonesia memang mayoritas mereka menggunakan bahasa sunda halus. Meskipun mereka nggak belajar secara formal, mereka sudah ada yang bisa membaca dan menulis belajar secara otodidak.
Salah satu tempat yang paling gue rekomendasikan buat teman-teman jika kalian pengin tahu sebagian cerita budaya Indonesia, di sinilah tempatnya Suku Kanakes Baduy, luar biasa hubungan dengan alam dan manusianya menyatu. Meskipun gue nggak ke distrik Baduy dalam, peranan Baduy luar mempunyai peran penting untuk tetap menjaga budaya tersebut sebagai penyeimbang dan penyaring antara budaya masyarakat luar dengan keaslian budaya Baduy itu sendiri. Semoga kebudayaan yang pada keasliaanya sampai kapanpun Indonesia ini ada, tidak akan tegerus semakin pesatnya kemajuan zaman, aamiin...
Komentar
Posting Komentar